Gunawan's posts with tag: bedhaya

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag bedhaya
Photo AlbumPerjalanan Menuju Bedhaya (15 photos)Feb 16, '08 12:58 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Inilah bentuk sebuah pencapaian identitas diri. Agar generasi MTV, Channel [ V ] dan yang lainnya tidak kehilangan akar budayanya. Perjalanan menuju tarian sakral Bedhaya adalah bentuk kepedulian diri terhadap seni tari Klasik Jawa. Ini adalah sebagian dari Ragam Dasar yang harus dipelajari dan ini adalah rumus dari setiap bentuk tari Jawa Klasik baik Serimpi, Golek ataupun Bedhaya.

Terima kasih buat teman-teman yang peduli akan warisan budaya dan seni tari pada khususnya. Terima Kasih buat Kang Hary yang sudah mau memberikan komentar dan penjelasan untuk setiap Ragam dalam photo ini.

Masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna Ragam Dasar yang ada dalam photo ini tapi mudah-mudahan ini bisa memotivasi anak bangsa yang lain.

Blog EntryBedhaya Tarian Sakral KeratonFeb 10, '08 10:16 AM
for everyone

"Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam penulisan artikel ini ada hal-hal yang kurang berkenan dan jauh dari sempurna dikarenakan riset mengenai Tarian Sakral Bedhaya masih dalam proses. Ini hanya sebagian kecil artikel untuk menggambarkan betapa indah dan gemulainya tarian tersebut.  Untuk mendukung proses riset inilah saya masih mempelajari tari Jawa Klasik sebagai dasar sebelum mulai menarikan komposisi "Bedhaya." Yang nantinya akan berlanjut dengan artikel berikutnya yang lebih informatif

 

 

Suasana sakral, hening, syahdu serta magis sangat terasa di Bangsal Kencono. Para pemain gamelan dengan gerakan perlahan memainkan gending Ketawang mengiringi sembilan orang penari putri yang melangkah dengan perlahan namun pasti dengan formasi kapang-kapang dimana tangan berada disamping dan jari-jarinya membentuk posisi ngiting.  Dengan gerakan gemulai para penari mulai bergerak mengambil posisi sembahan yang melambangkan manusia harus menghormati Tuhan sebagai Sang Pencipta dan melakukan sembahan jengkeng kepada Sultan sebagai penguasa keraton lalu setelah itu mereka berdiri dan mulai melakukan posisi mendhak dan mulai ngleyek sambil menari secara pelan dan sambil bergerak melakukan trisik, kengser  sering kali posisi mereka bergantian sesuai gerak dan formasi yang telah ditetapkan misalnya saja dari formasi rakit awitan berubah menjadi rakit ajeng-ajengan lalu setelah itu berubah menjadi rakit iring-iringan atau kadang-kadang membentuk formasi rakit tigo-tigo kadang- kadang mereka melakukan gerak ombak banyu. 


Para tamu yang menyaksikan pun hanyut terbawa suasana sakral, tidak terdengar sedikit pun bisik-bisik karena semua mata mereka tertuju kepada para penari tersebut, bisa dimengerti kalau mereka semua tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun karena wajah  penari-penari itu hampir sama dan terlihat sangat cantik, anggun dan bersinar karena menggunakan rias wajah Paes Ageng seperti pada mempelai putri pengantin Jawa, komposisi make up dimulai pada dahi dengan diberi paesan berwarna hitam dan diatasnya diberi hiasan kinjengan lalu disekelilingnya diberi lapisan garis prada kemudian alisnya dibentuk manjangan ranggah, ditambah dengan rias jahitan untuk kelopak mata, serta wajikan di tengah dahi.  


Rambut mereka dibentuk menjadi gelung bokor dibalut dengan rajutan melati dan di kanan kiri gelung menggunakan jebehan berbentuk bunga serta ceplok di tengah gelung, lalu disematkan gajah nguling di sebelah kanan berupa roncean melati yang menjuntai, dibagian atas ada sebuah  jungkat atau sisir ditambah dengan mentul sebanyak lima buah, lalu ada centhungan diatas dahi, untuk mempercantik bagian telinga ditambahkan sumping ron dan subang. Selain itu masih ditambahkan lagi dengan bros dan kalung susun serta kelat bahu untuk menambah sentuhan pada lengan bagian atas dan yang terakhir adalah pending untuk mengikat slepe atau selendang.  Kalau dilihat dari arah tamu undangan rata-rata tinggi badan para penari itu hampir sama dan terlihat sangat menyatu satu dengan yang lainnya apalagi busana yang dikenakan berupa kain dengan motif cinde dan kampuh atau dodot dengan warna semen lalu dibagian belakang diberi bokongan dengan warna semen serta tidak ketinggalan udet atau sampur, sebuah perpaduan yang sempurna, harmonis serta dinamis dimana sembilan penari putri yang terpilih dilatih dan digembleng secara khusus dikarenakan tarian yang mereka bawakan adalah tarian sakral keraton yang hanya dipertunjukkan jika ada acara khusus keraton seperti jumenengan.

 

Bedhaya adalah nama tarian ini, sebuah tarian putri Jawa klasik yang adiluhung, halus, luhur dan bercerita tentang legenda, babad ataupun sejarah. Bedhaya sendiri bila diwujudkan dalam kehidupan manusia dapat diartikan sebagai lambang arah mata angin, arah kedudukan planet-panet dalam kehidupan alam semesta dan lambang lubang hawa dalam tubuh manusia sebagai kelengkapan hidup atau dalam bahasa Jawa disebut sebagai babadan hawa sanga yaitu diwakili oleh dua buah mata, duah buah lubang hidung, satu mulut, dua buah kuping, satu lubang kemaluan dan satu lubang pelepasan. 


Menurut masyarakat Jawa sembilan unsur lubang hawa inilah yang memegang kendali dalam kehidupan manusia dan bisa mengakibatkan berbagai masalah jika tidak dijaga dan dikendalikan dengan baik.  Untuk itulah manusia diharapkan mampu berserah diri, tawakal dan selalu melakukan introspeksi  diri dengan melakukan perenungan, tapa dan berdialog dengan Yang Maha Kuasa. Gerak dalam tari Bedhaya tidak saja dapat dilihat dengan mata biasa tetapi harus juga dilihat dengan mata batin sebagai benang merahnya karena semua gerakan itu berkaitan dengan kehidupan di dunia dan lebih berorientasi kepada pemahaman diri sendiri, perenungan diri antara manusia sebagai pribadi individual dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. 


Hidup harus dilihat sebagai perjuangan bukan hanya dijalani tanpa arti, maka kesembilan unsur lubang hawa ini dalam tari Bedhaya diwakili oleh Endhel untuk mulut, Batak yang mewakili lubang hidung kanan, Gulu untuk lubang hidung kiri, Dhadha untuk mewakili mata bagian kanan, Mbuntil untuk mata bagian kiri, Apit Ngajeng mewakili bagian telinga kanan, Apit Wingking untuk telinga bagian kiri,  Apit Wedalen Ngajeng mewakili bagian tubuh manusia yang sangat vital yaitu kemaluan dan Apit Wedalan Wingking untuk bagian pelepasan. 


Tentu saja tidak dapat dilupakan bahwa gerak dalam tari Bedhaya selalu berpatokan kembali dengan filosofi Kawruh Joget Mataram, filosofi yang sangat melekat sangat dalam pada diri setiap orang, prinsip sawiji atau konsentrasi/menyatu antara manusia dan Tuhan, greget yang mempunyai makna dinamika/ekspresif, sengguh yang bermakna percaya tetap tetap harus rendah hati tidak boleh sombong dan oramingkuh yang berarti pantang mundur dalam membela yang lemah.  Prinsip inilah yang harus selalu dipahami dan dipegang dengan teguh oleh masyarakat Jawa pada umumnya jika prinsip ini dipegang secara utuh maka dapat dipastikan segala sesuatu dimuka bumi akan sejahtera, manusia hidup rukun dengan sesamanya, aparat pemerintah juga bekerja dan mentaati peraturan yang berlaku, moral masyarakat secara umum juga akan membaik idealnya.


Untuk tari Bedhaya dilihat secara umum baik dari segi historis, geografis maupun simbolis dimiliki oleh empat keraton yang ada di pulau Jawa yaitu Keraton Yogyakarta Hadiningrat dengan Bedhaya Semang, Pura Pakualaman memiliki Bedhaya Tejanata, Keraton Kasunanan Surakarta memiliki Bedhaya Ketawang dan Pura Mangkunegaran memiliki Bedhaya AnglirmendungMaka kita sebagai manusia wajib bersyukur dan menghargai kesenian tradisional sehingga nanti generasi penerus bangsa tidak akan kehilangan akar dan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Yang mempunyai beragam kesenian tradisional dan adat istidat yang berbeda.

 

 

 

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help