Blog EntryBaduy Nan MempesonaDec 29, '07 9:59 PM
for everyone

Banyak cara dilakukan orang Jakarta untuk mendapatkan rasa nyaman dan melepaskan ketegangan dari rutinitas sehari-hari yang menjebak misalnya saja jadwal rapat setiap menit, terjebak macet di siang hari yang panas, bertemu dengan kolega bisnis, laporan yang menumpuk.  Sehingga untuk melepaskan diri dari semua ketegangan yang ada maka banyak yang rela mengeluarkan biaya yang mahal untuk mendapatkan sebuah ketenangan; relaksasi di spa adalah salah satu cara yang paling banyak dilakukan oleh orang-orang baik pria maupun wanita. Dengan membayar sekian rupiah maka ketenangan didapat tetapi apakah hal ini tidak menjadi suatu pemborosan? Ada satu cara lain yang dapat dilakukan tentunya dengan biaya yang agak sedikit mahal jika anda bepergian sendiri dan itu pun tergantung dengan sarana transportasi apa yang digunakan. Nah, untuk itu ada satu cara unik yang mungkin saja dapat anda jadikan alternatif untuk mencari ketenangan dan melepaskan diri dari segala rutinitas hidup yaitu “Back to the past” alias “Kembali ke Masa Lalu”.

 

Perjalanan menuju ke masa lalu dapat dimulai dengan mengarahkan mobil anda ke arah Propinsi Banten melalui tol Jakarta – Merak dengan tujuan Kabupaten Lebak – Rangkasbitung, kecamatan Leuwidamar, di desa Kanekes.  Di desa inilah tinggal sekelompok masyarakat adat Sunda yang hidupnya sangat sederhana tapi bersahaja.   Mereka dengan teguh memegang aturan dan ajaran adat yang telah turun temurun diturunkan kepada mereka.  Para peneliti dari Belanda memberikan sebutan kepada mereka “Baduy” yang diambil dari nama Suku Badawi atau Bedouin dari Arab karena pola hidup mereka yang selalu berpindah-pindah dan mereka ini terbagi antara Baduy Dalam dan Luar, tetapi mereka sendiri lebih suka menyebut diri mereka sebagai “Urang Kanekes” atau “Orang Kanekes” sesuai dengan kampung mereka atau “Urang Cibeo” mengacu kepada nama desa mereka yaitu Cibeo.  Desa ini terletak di kaki pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300-600 m di atas permukaan laut dimana bentuk topografi tanahnya berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45º dimana sebagain berupa tanah vulkanik di bagian Utara sedangkan di bagian tengah berupa tanah endapan, sementara itu di bagian Selatan berupa tanah campuran.

 

Sehari-hari orang Baduy menggunakan bahasa Sunda dengan dialek Sunda-Banten tetapi anda jangan berpikir mereka tidak bisa berbahasa Indonesia, karena walaupun mereka tidak mengenal pengetahuan baca tulis tapi mereka bisa berinteraksi dengan para pendatang yang berkunjung ke desa mereka.  Semua adat-istiadat, kepercayaan/agama dan cerita tentang nenek moyang mereka selalu diturunkan secara lisan kepada generasi selanjutnya.  Orang Baduy Dalam pada umumnya hidup dari bertani yaitu jenis padi huma selain itu mereka juga mendapat penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan seperti durian, asam keranji juga madu hutan. 

 

Sebenarnya mayarakat Baduy Dalam atau Urang Kanekes bukanlah penduduk terasing atau masayarakat yang hidupnya terisolasi dari perkembangan dunia luar melainkan hanya menjalankan secara ketat aturan adat yang telah diwariskan oleh leluhur mereka, berdirinya Kesultanan Banten pada waktu itu secara otomatis memasukan wilayah Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya.  Orang Kanekes secara rutin melakukan upacara Seba ke  Kesultanan Banten sebagai tanda kepada kepatuhan atau pengakuan kepada penguasa, sampai sekarang upacara seba ini terus dilangsungkan setahun sekali berupa penyerahan hasil bumi seperti palawija, padi dan buah-buahan kepada Gubernur Banten dimana sebelumnya kepada Gubernur Jawa Barat melalui bupati Kabupaten Lebak. 

 

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, yaitu salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi bahkan kadang-kadang asal-usul ini dihubungkan pula dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama.  Tetapi beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa dari beberapa bukti sejarah yang ditemukan berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai Tatar Sunda masyarakat Kanekes dikaitkan dengan kerajaan Sunda.  Kepercayaan yang dianut oleh orang Kanekes adalah Sunda Wiwitan yang berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang yang pada perkembangannya berikutnya mendapat pengaruh dari agama Budha, Hindu dan Islam.  Inti kepercayaan itu ditunjukan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes, isi terpenting dari pikukuh itu adalah konsep “tanpa perubahan apapun” atau perubahan sesedikit mungkin: Lojor heunteu beunang dipotong, pendek heunteu beunang disambung.  Objek terpenting dari kepercayaan ini adalah Arca Domas, dan lokasi tempat arca ini sangat dirahasiakan dan sangat sakral, hanya Puun yang tahu dimana tempatnya dan setahun sekali di bulan Kalima orang Kanekes melakukan pemujaan tetapi hanya beberapa orang yang terpilih serta Puun saja yang bisa mendatangi tempat Arca Domas berada. Di kompleks Arca Domas terdapat sebuah batu lumpang yang menyimpan air hujan dan apabila pada saat dilakukan upacara pemujaan ditemukan air di dalam batu lumpang penuh dan jernih itu bertanda hujan pada tahun itu akan selalu turun dan hasil panen akan menggembirakan tetapi bila ditemukan air dalam keadaan kering dan keruh pertanda bahwa panen akan gagal. Perwujudan dari semua aturan adat itu terlihat nyata dalam kehidupan orang Kanekes Dalam dimana dalam membangun rumah kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya sehingga bentuk tiang penyangga rumah mereka tidak sama panjang, begitu juga larangan tidak menggunakan benda-benda elektronik seperti radio, televisi bahkan untuk sumber penerangan pun mereka hanya menggunakan lampu tempel atau lilin tanpa mau menggunakan energi listrik.  Begitu juga dengan melakukan ritual yang bersifat pribadi misalnya saja untuk mandi; orang Baduy Dalam tidak pernah menggunakan sabun atau shampo untuk mencuci rambut serta menggunakan pasta gigi karena buat mereka hal itu akan mengotorkan kebersihan sungai walau untuk melepaskan hajat mereka membuangnya di sungai tetapi mereka melakukan disisi yang tidak akan digunakan oleh orang lain. Selain itu mereka juga tidak merubah kontur tanah ketika membuka ladang, sehingga secara sederhana mereka tidak menggunakan bajak, tidak membuat terasiring tetapi hanya menanam dengan dengan tugal yaitu sepotong bambu yang diruncingkan.  Letak rumah mereka pun sangat unik berderet saling berhadapan terbagi dua kanan dan kiri secara teratur sehingga di tengah-tengah merupakan jalan untuk menuju kesungai atau ke rumah mereka, dan selalu menghadap ke utara atau selatan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Bentuk rumah orang Kanekes sangat sederhana, hanya rumah panggung dengan dinding dari bilik bambu serta lantai kayu dan dibangun tanpa menggunakan paku sama sekali karena itu hal yang tabu bagi orang Kanekes tapi hanya disambung dengan menggunakan pasak kayu. Beratapkan daun rumbia dan daun pandan hutan membuat rumah mereka tahan dari air hujan.

 

 Selama tinggal di wilayah Kanekes segala peraturan harus ditaati misalnya kita tidak boleh photo selama di areal mereka, tidak diperkenankan jalan ke hutan larangan, bertemu dengan Puun atau Ketua Adat dan sampai saat ini wilayah Baduy Dalam masih tertutup untuk orang-orasing yang bukan warga negara Indonesia.  Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu Tangtu, Panamping dan Dangka; tangtu adalah kelompok yang paling ketat mengikuti adat dan dikenal dengan sebutan Baduy Dalam yang tinggalnya di tiga kampung yaitu Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik.  Ciri khas orang Baduy Dalam adalah memakai pakaian berwarna putih yang disebut Jamar Kurung dan menggunakan sarung hitam atau biru tua yang disebut Samping Aros serta menggunakan ikat kepala yang disebut Telekung.  Orang Baduy Dalam sangat memegang teguh aturan adat mereka dan mereka sama sekali tidak boleh pergi ke dokter walau sakit sekali pun, semua obat-obatan menggunakan ramuan tradisional yang disiapkan oleh tabib. Untuk urusan rumah tangga biasanya orang Baduy Dalam dijodohkan oleh orang tua mereka dan biasanya sesama orang Baduy Dalam sendiri, jika sampai menikah dengan orang dari Baduy Luar harus dengan seijin Puun, bahkan untuk ke kota pun mereka tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan umum tapi harus berjalan kaki, lama perjalanan biasanya 10 hari untuk pergi dan pulang. Dari sinilah orang Baduy menambah wawasan dan relasi mereka dengan mengunjungi teman-teman yang pernah datang berkunjung serta untuk menjual sebagian dari hasil kebun mereka. Yang berikutnya adalah kelompok masyarakat Panamping atau yang lebih dikenal dengan sebutan Baduy Luar, merek tinggal di berbagai kampung yang tersebar di sekeliling Baduy Dalam misalnya Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh dan Cisagu; masyarakat Baduy Luar berciri khas memakai baju berwana biru.  Jabatan tertinggi dalam sistem pemerintahan masyarakat Baduy adalah Puun sebagai pemangku adat dan jabatan ini biasanya turun temurun tapi tidak langsung dari ayah ke anaknya namun bisa juga kepada kerabat yang lainnya. Untuk mengawasi dan menjaga kerukunan masyarakat dalam menjalankan aturan adat biasanya dilaksanakan oleh Jaro atau semacam Lurah. 

 

Kehidupan masyarakat Baduy Dalam yang sederhana sangat menarik karena kita bisa belajar mencintai alam dan kelestarian lingkungan hidup, setiap pagi begitu ayam berkokok masyarakat Baduy Dalam bergegas bangun dan melakukan kegiatan mereka mulai dari mengambil air disungai dengan menggunakan tabung bambu, mengambil kayu bakar yang sudah tersimpan rapi dibawah rumah mereka, menumbuk padi dengan menggunakan alu semakin membuat hati tenang, karena dentuman alu yang di hentakan ke lumpang seakan menjadi musik tersendiri di telinga, belum lagi anak-anak Baduy yang berlarian dan berceloteh ramai semakin menambah keriuhan suasana pagi. Jika tidak kegiatan berladang biasanya orang Baduy Dalam bekerja secara gotong royong memperbaiki rumah, jembatan atau lumbung penyimpan padi. Dan kita juga bisa belajar betapa ketenangan tanpa diganggu bunyi dering telepon selular sangat berharga dan sangat mahal keberadaannya. Nah, anda ingin merasakan kehidupan sederhana seperti masayarakat Baduy? Untuk itu anda bisa datang langsung ke sana atau ikut bergabung dengan salah satu  komunitas yang bernama Jalan Melulu; komunitas ini didirikan secara tidak sengaja oleh sekelompok karyawan sebuah bank swasta yang hobinya jalan-jalan melulu.  Sampai saat ini untuk trip ke Baduy sudah yang 13 kali mereka adakan dan setiap kunjungan pesertanya semakin bertambah.  Sangat disarankan bagi anda yang belum pernah ke sana untuk berkonsultasi dulu atau bertanya dengan komunitas ini atau kalau perlu ada bisa meminta bantuan mereka untuk mengatur perjalanan dan penginapan selam di Baduy Dalam dan mereka pun dengan senang hati akan membantu anda. Nah, tunggu apa lagi segera rencanakan liburan akhir pekan dan luangkan waktu anda untuk menikmati  dan menyelami kehidupan sederhana seperti Orang Kanekes atau Baduy Dalam sehingga hidup anda akan penuh makna ketika anda kembali ke rutinitas kehidupan metropolitan.

 

 


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help