Pertama kali menginjakkan kaki di Bandar Udara Suvarnabhumi Bangkok rasanya seperti kembali ke rumah sendiri karena bertemu dengan orang-orang yang murah senyum, wajah-wajah ceria khas Asia, sapaan khas yang mampir ditelinga membuat hati berbunga-bunga; semua ini karena penduduk Bangkok secara fisik sangat mirip dengan orang-orang di Jakarta. Tetapi begitu anda melangkahkan kaki menyusuri koridor bandara lebih jauh terasa sekali perbedaan dengan Jakarta, dengan bentuk bangunan beraksitektur megah dan modern perpaduan besi baja dan kaca membuat bandar udara Suvarnabhumi menjadi yang termegah di kawasan Asia Tenggara. Semua fasilitas yang disediakan sangat memudahkan buat orang-orang yang datang berkunjung; mulai dari counter visa on arrival yang efisien, kemudian proses imigrasi yang lancar, belum lagi fasilitas restaurant, lounge dan café yang nyaman, toko-toko bebas bea, tempat pengambilan bagasi yang modern, trolley untuk bagasi, meja informasi, buku panduan pariwisata semua disediakan untuk memudahkan anda berkunjung dan menjelajahi Bangkok.
Begitu mobil atau taksi yang membawa anda memasuki pusat kota kembali suasana seperti di Jakarta dapat dirasakan; kendaraan berjalan merayap dikarenakan padatnya arus lau lintas, kemacetan di beberapa ruas jalan dan persimpangan, asap knalpot sumber polusi yang berasal dari taksi, bus kota, tuk-tuk kendaraan khas kota Bangkok yang mirip bajaj, serta barisan motor yang berusaha mencari jalan untuk segera sampai ditempat tujuan. Belum lagi kesibukan di pelbagai gedung perkatoran dan pusat perbelanjaan mewah semakin menambah rasa seperti di negeri sendiri tetapi kalau diperhatikan dengan lebih seksama ada beberapa hal yang membuat itu tidak seperti di negeri sendiri; gedung-gedung pencakar langit tumbuh bak jamur di musim hujan, dan yang paling mencolok adalah jalur sky train alias monorail yang katanya juga akan bisa dinikmati oleh warga Jakarta kalau pembangunannya selesai J, kalau melihat semua itu seakan tidak percaya pembangunan di Bangkok sedemikian pesatnya untuk menjadi kota metropolitan mengingat sebagai sesama negara anggota Asean negara ini pun tidak luput dari krisis ekonomi yang melanda pada beberapa waktu yang lalu. Bukti kemajuan Bangkok di abad 21 adalah dengan adanya akuarium laut terbesar di Asia yang terletak di lantai paling bawah dari sebuah pusat perbelanjaan.
Tetapi ini semua adanya di Bangkok era modern atau di abad 21 sebagai ibukota Thailand yang didirikan oleh Raja Rama I, sebelumnya ada 3 ibukota pendahulu yaitu Sukothai, Ayutthaya dan Thonburi. Kota ini terletak di delta sungai Chao Praya dan bentuknya seperti pulau kecil yang dikelilingi oleh sungai Pasak dan sungai Lopburi serta Chao Praya sehingga kalau terjadi banjir akan selalu tergenang sehingga untuk mengatasi hal tersebut dibuatlah kanal-kanal untuk mengalirkan air dan kolam-kolam untuk menampungnya dan nama kota ini sangat identik dengan kota Ayodya dari cerita Ramayana tetapi ada juga kalangan akademis yang mengatakan bahwa artinya “Kota yang tidak terkalahkan” setelah Naraseuan sebagai raja mengalahkan Birma atau sekarang yang kita kenal dengan Myanmar. Didirikan pada tahun 1350 pada abad ke 14 sesudah masehi oleh Raja U-thong yang bergelar Ramathibodi I, dinasti Lopburi memerintah sampai tahun 1409 dengan Ram Rachathirat sebagai Raja, ada 3 dinasti yang memerintah pada masa awal periode pemerintahan yaitu Lopburi sebanyak 2 kali serta Suphannaphum, kemudian pada periode pertengahan pemerintahan dipegang oleh Dinasti Suphannaphum dengan Raja terakhirnya bernama Mahintrathirat pada tahun 1569 kemudian dilanjutkan oleh Dinasti Sukhotai, selama diperintah oleh dinasti Sukhotai ada 7 raja yang memerintah namun yang paling terkenal adalah Raja Naresuan atau yang lebih dikenal Naresuan Sang Raja Agung. Roda pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh dinasti Prasat Thong, pada masa ini yang paling terkenal Narai sang Raja Agung yang memerintah dari tahun 1656 sampai tahun 1688. Pada akhir abad ke-14 sesudah masehi Ayutthaya merupakan kerajaan yang terkuat di kawasan Indochina sebelumakhirnya dhancurkan dan ditaklukan oleh Birma dan meninggalkan banyak sekali reruntuhan kota tua. Dengan semua bukti-bukti yang ada betapa semua ini menunjukkan Ayutthaya selain terkuat juga merupakan kerajaan yang kaya dan juga merupakan pusat agama Budha sebagai agama utama dimana bentuk kuil atau dalam bahasa Thai disebut Phrang karena dipengaruhi oleh kebudayaan Khmer dari Kamboja dimana bentuk bangunannya tinggi menjulang dan berbentuk seperti jagung sementara untuk bentuk stupa dipengaruhi dari Sri Lanka. Semua bukti-bukti kebesaran kerajaan ini masih dapat anda lihat walau hanya tinggal puing-puing atau runtuhan saja tetapi ini menunjukkan betapa penduduk Thailand menghargai bangunan sejarah.
Tempat pertama yang dapat anda kunjungi adalah kompleks kerajaan, disini berdiri Vihara Phra Mongkhon Bophit dengan patung Budha setinggi 12.45 meter terbuat dari perunggu yang kemudian dilapisi dengan emas. Bangunan utama pertama dibangun pada masa pemerintahan Raja Song Tham sebelum dibakar pada waktu diserang oleh Birma pada tahun 1767 lalu pada tahun 1920 sempat direstorasi dan dipugar pada pemeritahan Raja Rama VI. Kemudian di sebelah kanan berdirilah komplek kerajaan yang dibangun oleh Raja Borom Trai Lokanath dimana didalamnya terdapat kuil untuk menghormati Sang Budha yang bergelar “Phra Si Sanphet” tetapi kita tidak bisa melihat lagi patung sang Budha karena hancur oleh tentara Birma. Bangunan ini pertama kali didirikan pada 1448 lalu secara bertahap bangunan ini di kerjakan, pada tahun 1492 dibangunlah ketiga bangunan Chedi atau Stupa dan merupakan landmark dari kuil ini setelah itu pada tahun 1499 baru bangunan utama didirikan. Ketiga bangunan stupa ini selain menjadi ciri khas kuil juga dipercaya sebagai tempat penyimpanan abu raja Borom Trai Lokanath, Boromrachathirat III dan Raja Ramathipbodi II, pada masanya kuil ini hanya dipergunakan untuk upacara keagaman dan negara serta untuk menyimpan benda-benda pusaka kerajaan. Walau sudah tinggal puing-puing saja tetapi kita masih dapat melihat keindahan dari ketiga stupa yang masih berdiri kokoh walau sudah agak miring karena perubahan struktur pondasi, walau agak sedikit harus menahan teriknya matahari ketika berkeliling melihat kompleks kuil ini.
Lokasi berikutnya yang bisa dikunjungi adalah Wat Phra Ram yang letaknya tidak jauh dari Wat Phra Si Sanphet. Letaknya di sebelah timur dari Royal Palace, bangunan ini berhubungan erat dengan Raja U-thong dimana menurut cerita ketika beliau mendirikan kota ini dekat sebuah kolam yang terletak persis di sebelah bangunan yang sekarang, pada awalnya kolam ini bentuknya kecil tetapi karena terus digali untuk diambil tanahnya guna pembangunan kota maka menjadi besar seperti sekarang, tetapi banyak kalangan ahli yang berpendapat bahwa kuil ini dibangun pada tahun 1369 oleh Ramesuan untuk tempat kremasi jenazah ayahnya U-tong. Sayang sekali di salah satu stupa dari 4 yang ada sudah hancur dimana setiap stupa menggambarkan Budha dalam posisi duduk, berdiri, berjalan dan yang hancur dalam posisi berbaring. Berikutnya yang bisa dikunjungi adalah Wat Maha That, bangunan ini sendir adalah tempat tinggal para bhiksu serta Ketua Tertinggi dari para bhiksu. Bangunan utama sendiri terletak di tengah-tengah sementara bangunan wihara dan ruang pentahbisan sebagai bhiksu ada di depan dan belakang bangunan utama. Didirikan pada abad ke 14 sesudah masehi bangunan utama ini sudah yang sekarang tinggal bagian pondasi saja sementara stupa utama sudah hancur ketika terjadi gempa pada tanggal 25 mei 1904. Di kompleks ini juga ditemukan keunikan lain yaitu adanya patung kepala Budha yang terletak diantara lilitan akar pohon beringin. Menurut informasi yang ada ketika akan dilakukan restorasi para arkeolog tidak menemukan badan sang Budha sehingga dibiarkan terletak begitu saja sampai akhirnya dikelilingi oleh akar pohon.
Selangkah dari Wat Maha That ada bangungan unik lain yang bisa dilihat yaitu Wat Ratchaburana dimana para kalangan akademis berpendapat bangunan ini dibangun sekitar tahun 1424 abad ke 15 sesudah masehi. Sejumlah dokumen kuno juga menuliskan bahwa Wat Ratchaburana dibangun oleh raja Boromrachathirat II di areal tempat kedua saudara kandungnya berperang satu sama lain karena memperebutkan tahkta, karena mereka berdua tewas akhirnya Boromrachathirat menjadi raja. Keunikan lain dari kuil ini adalah ditemukan bilik tempat penyimpanan barang-barang berharga di bagian dasar bangunan utama yang turun kebawah seperti piramida di mesir. Dari bilik ini ditemukan banyak sekali baranng-barang berharga seperti koin emas yang berasal dari jazirah Arab, perhiasan, pajangan berharga. Ruang penyimpanan ini mempunyai tiga tingkat didalamnya dimana sebelumnya pemerintah Thailand tidak mengetahui adanya ruang penyimpanan ini sampai ditangkapnya para penjarah benda bersejarah pada tahun 1957 setelah dilakukan esvaksi lebih lanjut ditemukan ada tiga ruang penyimpanan dimana ditemukan hampir 2000 artefak kuno. Sebagian berupa perhiasan emas dengan total lebih dari 100 kg dan 100.000 lebih sejumlah artefak berukiran untuk bersembahyang. Wat Yai Chaimongkol adalah bangunan lain yang patut dikunjungi, dibangun sekitar abad ke 15 sesudah masehi bangunan ini mempunyai stupa besar setinggi 62.10 meter dan dibangun dengan batu bata sebanyak 28. 144 ton untuk memperingati kemenangan atas Birma oleh Naresuan Sang raja Agung, kemudian stupa ini diberi nama “Chaimongkol” yang artinya berjayalah, kemudian nama ini digabungkan dengan nama resmi kuil ini sendiri yakni “Wat Yai” maka kuil ini jadi lebih dikenal dengan nama yang sekarang yaitu Wat Yai Chaimongkol. Lokasi kuil ini pada awal pembangunannya sudah disiapkan dan dipikirkan secara matang untuk menahan berat dan tekanan dari stupa itu sendiri tetapi tetap saja menekan aliran air di bawah tanah sampai ke pondasi dasar kuil ini sehingga menjadi berongga sehingga menjadi miring seperti yang terlihat sekarang ini.
Bangunan lain yang unik adalah Wat Phukhaothong, agak sedikit jauh dari pusat kota bangunan ini berwarna putih tinggi menjulang terletak di tengah hamparan sawah dengan patung Naresuan Sang Raja Agung di depan pintu masuk. Menurut kalangan akademisi berdasarkan sejumlah dokumen yang ditemukan dibangun sebagai monumen untuk memperingati kemenangan Naresuan atas pasukan Birma, sehingga bentuk stupa utama bergaya arsitektur khas Ayutthaya sedangkan bagian dasar pondasi bergaya Birma dan juga sebagai simbol kemenangan bagi Thailand atas Birma. Karena menurut sejarah ketika Ayutthaya diserang Birma pada tahun 1569 dan pasukan Birma memperoleh kemenangan dengan membangun monumen kemenangan untuk memperingatinya tetapi hanya sampai di tingkat 3 karena terlanjur diserang kembali oleh Naresuan. Pada tahun 1754 ketika Borommakot memerintah beliau membangun stupa utama diatas bangunan pondasi utama yang tidak selesai karena ditinggal begitu saja oleh Birma. Inilah yang dimaksud dengan simbol kemenangan Thailand atas Birma. Stupa utama ini melambangkan juga arti nama bangunan ini sendiri yaitu “Gunung Emas”. Sayang sekali setelah dilakukan penelitian beberapa kali ditemukan lubang besar di pondasi dasar bangunan sebelah barat dimana ini terjadi karena akibat penggalian tidak resmi dari para penjarah. Karena itu bangunan ini menjadi amblas ke dalam tanah sekitar 2 meter, oleh Departemen Kebudayaan dan Sejarah Pemerintah Thailand bagian yang berlubang ditambal dengan memasukkan cairan kimia yang akan langsung padat sehingga akan menahan bangunan ini amblas lebih dalam. Bangunan terakhir yang patut dikunjungi adalah Wat Chaiwattanaram, dibangun oleh Prasat Thong pada masa pemerintahannya tahun 1673 di sebuah lahan yang merupakan milik ibunya. Bentuk kuil ini melambangkan ajaran Budha di alam raya. Dipercaya bahwa pusat dari kehidupan di alam raya ini berpusat pada sebuah gunung besar yang dikenal dengan nama Mahameru yang terletak dintengah-tengah bangunan; gunung ini sendiri dikelilingi oleh tujuh unsur kosmik lautan dan tujuh unsur kosmik pegunungan serta disetiap empat penjuru alam raya terdapat empat benua dimana manusia hidup dan setiap bagian dihubungkan dengan sejumlah lukisan di dinding. Disini terdapat juga 120 patung sang Budha yang sedang duduk di sepanjang tembok bangunan utama yang menjadikan bangunan ini menjadi tempat yang disucikan.
Perjalanan kembali ke kota tua Ayutthaya menjadi suatu pembelajaran untuk diri kita sendiri, bagaimana rakyat Thailand sangat menghargai kebudayaan dan sejarah mereka dengan menjaga warisan leluhur mereka serta menghormati Sang Budha sebagai penuntun hidup mereka. Dengan menghargai warisan sejarah dan menjaga banguna kuno masyarakat Thailand bisa menjadi seperti yang sekarang ini, bentuk keseriusan ini pun dihargai oleh UNESCO sebuah badan milik PBB dengan menjadikan Ayutthaya sebagai Warisan Dunia dan dilindungi oleh undang-undang dan hukum internasional pada tahun 1991. Dan seperti yang diungkapkan juga oleh Yang Mulia Raja Bhumibol bahwa “bangunan baru dan modern yang sekarang berdiri adalah kebanggaan para pembuatnya tetapi bangunan bersejarah adalah kebanggaan bangsa. Setiap bongkah batu peninggalan sejarah apapun bentuknya layak dijaga kelestariannya. Tanpa Sukothai, Ayutthaya dan Bangkok; Thailand sekarang tidak mempunyai makna”. Kapan rakyat dan pemerintah Indonesia mau belajar dan menjaga warisan sejarahnya???