Ada sedikit rasa penasaran yang timbul setelah membaca artikel di salah satu majalah wisata yang membahas tentang Flores, seperti ada magnet kuat yang menarik saya untuk datang ke pulau ini. Ada apa di pulau ini sehingga orang-orang Portugis zaman dulu betah dan mau menguasai pulau ini buat dijadikan tanah koloninya dan Belanda pun sampai rela merebut ini pulau dari Portugis. Maka setelah dapat waktu dan kesempatan untuk cuti dari kerjaan berangkatlah saya ke pulau cantik dan eksotis ini.
Perjalanan sendiri lumayan jauh, dan harus ganti pesawat juga di Denpasar dan ganti yang lebih kecil pakai baling-baling. Tapi jangan takut begitu terbang di atas Flores anda semua akan terkagum-kagum sama pulau ini, coba saja lihat dari jendela pesawat ke bawah semuanya serba coklat keeemasan dan dikelilingi laut biru jernih dengan terumbu karang yang berwarna-warni. Saya terbang kurang lebih 1 jam 30 menit dari Bali ke Flores dan begitu mendarat di bandar udara Komodo Labuan Bajo jangan punya bayangan airport ini modern dan canggih. Jauh dari bayangan saya, bangunannya, counter check in, ruang tunggu, apalagi di ruang kedatangan sangat sederhana.
Saya dijemput sama pak Sylvester, general manager hotel Bajo Eco Modo Lodge tempat saya menginap, hotelnya tidak terlalu besar tetapi bangunannya unik, di lantai 2 ada open bar dan ruang makan dan living room yang luas, kita kalau mau minum tinggal tulis saja di buku catatan tapi jangan ngibul ya minum 2 bilang 1, karena disini sistemnya tamu dianggap seperti keluarga jadi kita tulis sendiri berapa banyak minuman yang kita konsumsi, kamarnya juga tidak banyak cuma 9 tetapi hotel ini selalu fully book karena kebanyakan tamu yang datang dari Eropa, mereka datang karena di sana sudah penuh polusi makanya konsep hotel ini menyatu dengan alam tanpa merubah lingkungan sekitar.
Begitu selesai check in dan menaruh koper di kamar tanpa buang-buang waktu lagi langsung saja saya ke tujuan pertama yaitu Gua Batu Cermin yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel tapi jalannya itu yang bikin hati saya sedikit sedih, hancur alias sudah tidak mulus aspalnya bayangkan saja jalan yang saya lewati kata pak Silvester diaspal ketika masih zamannya Pak Harto dan sekarang belum dibetulkan. Begitu sampai di lokasi juga tetap saja kondisi jalan setapak buat ke gua sama saja tidak terawat dengan baik, dengan diantar pak Sebastian selaku guide setempat saya mulai berjalan menuju gua dan akhirnya saya tahu bahwa Flores ini dulunya berada dibawah permukaan laut karena ditemukannya fosil ikan dan kura-kura di dalam gua.
Untuk masuk kedalam gua lumayan susah karena harus naik tangga kayu dulu setelah itu baru kita bisa masuk ke dalam gua sambil sedikit membungkuk karena pintunya sangat rendah dan penuh dengan staglaktit. Lumayan berkeringat juga badan saya ketika masuk ke dalam gua dan sampai di dalam pemandangan sungguh sangat indah karena fosil-fosil karang yang sudah membatu sungguh fantastis dan keren, penuh dengan pantulan kristal berkilauan jika terkena sinar dari lampu senter tapi sayang seribu kali sayang ketika saya sampai ke bagian lain di dalam gua ada tangan-tangan jahil yang iseng meninggalkan jejak grafitti di dinding gua. Sungguh suatu perbuatan tolol dan sama sekali tidak penting sebenarnya untuk membuat orang lain tahu kalau mereka pernah datang dan mengunjungi gua tersebut, padahal hal tersebut bisa merusak fosil-fosil karang tersebut. Setelah puas berkeliling saya segera keluar gua untuk kembali ke hotel untuk beristirahat karena besok pagi perjalanan masih panjang.
Perjalanan ke Pantai Merah di pulau Komodo dimulai dari pelabuhan Labuan Bajo, dengan menggunakan perahu yang cukup untuk 10 orang perjalan segera di mulai. Perjalanan itu sendiri menempuh waktu kurang lebih 3 jam tetapi sepanjang perjalanan pemandangan yang ditemukan akan membuat mulut anda berdecak kagum dan tidak hentinya tangan anda membidikan kamera untuk mengabadikan keindahan alam yang sungguh bagus. Dengan hamparan laut biru yang luas dan pulau-pulau berwarna coklat keemasan karena kekeringan dan langit biru yang jernih sungguh seperti hasil karya lukisan.
Sesampai di Pantai Merah kapal yang saya tumpangi tidak bisa merapat ke pantai karena perairan di sekitar pantai merah sangat dangkal penuh dengan terumbu karang dan bias hancur kalau perau tetap untuk merapat dan membuang sauh, jadi untuk ke pantai merah saya menggunakan kayak kecil. Kenapa ke Pantai Merah? Mungkin itu jadi pertanyaan juga. Jawabnya adalah karena perairan di sekitar Pantai merah sangat indah dengan terumbu karang yang berwarna-warni jadi sangat cocok buat yang senang snorkeling, tadinya saya berpikir hanya berenang dan berjemur saja tapi karena support dari pak Arie guide yang mengantar akhirnya saya belajar snorkeling juga dan rasanya sungguh menyenangkan.
Bayangkan saja ikan-ikan berenang sangat dekat dengan saya dan dengan warna-warna yang mencolok membuat mata tak berkedip menatapnya. Pasir di pantai merah sesuai dengan namanya karena mengandung butiran koral mati berwarna merah dan bercampur dengan pasir yang berwarna putih sehingga membuat pasir menjadi merah gradasi pink. Setelah cukup puas berenang, snorkeling akhirnya saya kembali ke kapal untuk makan siang dan melanjutkan perjalan ke pulau Rinca. Menurut pak Arie, untuk melihat komodo lebih gampang ke pulau Rinca daripada di pulau Komodo sendiri karena bentuk pulaunya tidak banyak pegunungan dan bukit seperti di pulau Komodo.
Sampai di dermaga Loh Buaya di pulau Rinca , hati saya langsung ciut karena diujung dermaga dekat gerbang masuk berbaring sekitar 5 ekor komodo dengan santainya. Dengan perlahan saya mendekat dan mencoba mengambil photo sang naga. Saya pun mencoba memberanikan diri untuk berpose agak sedikit dekat dengan sang naga walau hati ini juga berdebar-debar takut di gigit. Menurut pak Arie biasanya komodo aktif di pagi hari dari matahari terbit sampai sekitar kam 10 setelah itu mereka berbaring untuk berisitirahat di bawah pepohonan atau semak belukar menghindari dari sengatan sinar matahari yang sangat menyengat dan juga untuk menyimpan tenaga karena biasanya pada musim kemarau makanan dan sumber air di pulau Rinca sangat susah untuk didapat.
Setelah berjalan lebih kurang 30 menit sampailah saya di markas para penjaga taman nasional Komodo dan langsung ke kantor pengelola untuk membayar karcis masuk dan memberikan donasi kepada yayasan setempat untuk pengelolaaan taman nasional tersebut. Setelah itu saya berjalan ke arah rumah panggung para ranger sebutan untuk para penjaga di taman nasional dan berkenalan dengan Edu yang akan mengantar saya berkeliling pulau Rinca. Saya dengan ditemani oleh pak Arie segera berjalan mengikuti Edu sambil sesekali mengamati gerombolan burung Gosong atau di Sulawesi lebih dkenal dengan nama burung Maleo, selain itu segerombolan kera liar asyik bergelantungan di setiap pohon yang saya lalui, perjalanan mengelilingi pulau Rinca penuh tantangan karena jalan yang dilalui penuh dengan batu dan lubang belum lagi terik matahari Flores yang sangat menyengat makin menambah beban. Setelah melalui semak belukar, hutan, sampailah saya di sungai kecil yang hanya sedikit sekali airnya dan menemukan 5 ekor kerbau liar yang sedang berendam menghindari teriknya matahari, sambil beristirahat sejenak saya sempat mengambil beberapa foto dari sang kerbau yan merupakan santapan bagi sang naga.
Saya kemudian segera melanjutkan perjalanan sambil melintasi padang rumput yang sangat luas dan gersang, dan suasana alam purba sangat terasa sekali sehingga saya sempat menerawang seandainya ketika saya melintasi padang rumput luas ini segerombolan dinosaurus lewat dan diatas kepala burung-burung purba berterbangan. Hal ini membuat saya segera melangkahkan kaki lebih cepat untuk segera kembali ke pos para ranger yang masih lumayan jauh jaraknya. Dan akhirnya sampai juga saya kembali di pos dan segera beisitirahat di kantin sambil minum minuman segar setelah itu saya segera melangkahkan kaki kembali ke dermaga tempat perahu saya menungu untuk kembali ke pelabuhan Labuan Bajo. Di pelabuan pak Sylvester sudah menunggu untuk menjemput saya dan kembali ke hotel. Rasanya perjalanan hari ini sungguh melelahkan tapi ada hal baru yang dapat saya petik dari keindahan pulau Flores.
Segera setelah sampai di hotel saya bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap untuk makan malam, menu yang disajikan cukup sedap ikan bakar dengan sayur dan sambal kecap sungguh terasa nikmat sekali membuat lidah serasa bergoyang. Hari sudah cukup malam sehinga membuat mata ini mengantuk maka saya pun segera kembali ke kamar untuk beristirahat karena besok perjalanan akan dilanjutkan menuju kota Ruteng. Perjalananan menuju Ruteng menempuh jarak kurang lebih 5 km dengan kondisi jalan yang berbelok-belok dan rusak berat. Sungguh sangat menyedihkan dimana wilayah Indonesia bagian barat sudah banyak mengalami pembangunan sementara apa yang saya lihat di depan mata sangat berbeda jalan yang rusak dengan aspal yang hancur, kondisi rumah yang sederhana, sebagian besar belum ada saluran listrik yang masuk. Tapi dibalik itu pemandangan alam yang yang terhampar sungguh sangat indah dan menakjubkan. Saya sempat berhenti di pinggir jalan untuk mengamati hamparan sawah yang berbentuk seperti sarang laba-laba. Menurut adat Ruteng satu petak bundar yang ada ditengah-tengah merupakan sentral dari segala kegiatan, walaupun sebagian besar dari mereka sudah memeluk agama Kristiani tapi upacara adat masih dipertahankan.
Mereka menyimpan bibit padi di tengah-tengan dan sedikit sesaji untuk dipersembahkan kepada ibu Pertiwi begitu juga ketika waktu panen tiba sedikit hasil panen diletakkan ditengah-tengah. Ini juga berlaku dengan sistem rumah tempat mereka tinggal ketika saya berkunjung sore harinya ke desa adat Compang dengan pusat kegiatan dilakukan di tengah-tengah lingkaran atau compang bentuk rumah yang dibangun juga mengikuti alur dari compang, dengan sistem ini sama juga untuk pertahanan pada zaman dulu.
Tidak banyak yang bisa dilihat desa adat Compang karena sedikit terletak di tengah kota maka kehidupan masyarakatnya sudah agak sedikit tersentuh dengan kehidupan modern, ini terlihat dari bentuk beberapa rumah yang sudah mengikuti rumah modern walau masih berdinding kayu dan beratap seng dan adanya antena parabola untuk menangkap siaran televisi melalui satelit. Anak-anak mudanya aktif bermain sepak takraw dan para ibu-ibu duduk-duduk di sekitar compang sambil sesekali mencari kutu, saya pun sempat membagi-bagikan sedikit permen untuk anak-anak di desa Compang. Dalam perjalan dari desa Compang saya mampir ke gereja katedral setempat untuk melihat bentuk bangunan yang sangat unik dan megah, saya sempat berdoa di dalam dan merasakan suasana yang sangat damai dan tenang. Setelah sampai di hotel saya memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum makan malam.
Selain desa adat Compang masih banyak lagi tempat wisata yang bisa dikunjungi d Ruteng seperti Liang Boa yang terkenal karena penemuan fosil manusia purba dan beberapa sumber mata air panas tapi karena kondisi jalan yang belum memadai dan jarak yang cukup jauh maka banyak yang hanya singgah sebentar di Ruteng sebelum melanjutkan perjalanan. Keesokan harinya setelah check out dari hotel perjalanan dilanjutkan menuju Bajawa dan kurang lebih 4 jam untuk sampai kesana dan melintasi desa Robo dimana ada sebuah salib yang sangat besar di puncak gunung Ranaka dimana warga Ruteng atas prakarsa uskup setempat mendirikan salib itu untuk melindungi kota Ruteng khususnya dan pulau Flores pada umumnya.
Sambil sesekali melintasi jalan yang agak sedikit rusak saya melintasi sebuah danau yang berwarna biru bernama danau Rana Mese tapi karena menghemat waktu saya tidak turun ke bawah untuk menikmati pemandangan danau jadi hanya berhenti di pinggir jalan dan melihat danau dari atas, ketika melintasi desa Sita pemandangan lebih menakjubkan sekali karena dari atas jalan saya bisa melihat laut Flores yang sangat biru di bawahnya. Ketika sampai di Borong saya berhenti sejenak untuk beristirahat sambil menikmati kopi dan sibuk berkirim sms karena sinyal telepon selular hanya ada di kota kabupaten atau kecamatan, setelah cukup meluruskan kaki kembali perjalanan dilanjutkan dan kali ini saya melintasi desa Wai Rana dimana ada kompleks gereja yang didirikan oleh para misionaris dari Belgia dan uniknya lagi kalau ada misa khusus terutama perayaan Paskah atau Natal misa dilakukan di luar gereja di bawah sebuah pohon beringin dimana bangkunya sudah disusun sedemikian rupa berbentuk setengah lingkaran. Sebelum memasuki desa Ai Mere saya melintasi sebuah pantai yang sangat indah dan saya berhenti sejenak untuk mengambil beberapa gambar. Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Tuhan karena begitu indah menciptakan alam semesta dan memberikan Flores alam yang begitu indah.
Sepanjang perjalanan menjuju Bajawa banyak sekali pohon aren yang tumbuh tapi sayang seribu kali sayang pohon ini hanya dimanfaatkan hanya diambil air sarinya saja untuk dibuat arak minuman tradisional sedangkan buahnya belum dimanfaatkan. Selain itu saya jga melintasi kebun-kebun milik penduduk setempat dan kebanyakan yang ditanam adalah pohon kemiri, kopi, cengkeh dan vanili. Sumber penghasilan masyarakat adalah dari semua tumbuhan yang saya sebut diatas, di Ai Mere juga saya sempat mampir ke salah satu rumah penduduk untuk melihat proses penyulingan air dari pohon aren untuk dibuat arak. Cara yang digunakan sangat sederhana dan hanya menggunakan tabung bambu untuk mengalirkan uap air dari tungku pemanas. Selain itu saya juga sempat mampir ke pasar tradisional utuk melihat bagaimana penduduk Flores berjualan dan melihat apa saja yang dijajakan di pasar tersebut dan ternyata ada beberapa bahan kebutuhan pokok yan tidak saya temukan seperti di Jakarta. Hari menjelang sore ketika saya sampai di kota Bajawa dan segera setelah check in dan menaruh barang-barang di kamar saya langsung melanjutkan perjalan ke sumber mata air panas Soa Mengeruda yang jaraknya kurang lebih 31 km dari Bajawa.
Setelah membayar karcis masuk saya berjalan melewati bangunan serbaguna yang berfungsi untuk mengadakan acara tapi sayang fasilitas didalam bangunan belum lengkap demikian juga dengan kolam sumber mata air panas yang hanya dibuat melingkar dengan hanya menggunakan batu bata dan semen yang seadanya, sebenarnya ada satu kolam lagi yang sudah agak bagus bentuknya tapi hanya dinding bagian luar saja sementara dasar kolam masih berbentuk semen kasar belum dilapisi lantai keramik dan bangunan kamar ganti masih sangat sederhana dan sepertinya dibiarkan terlantar. Begitu juga dengan pancuran untuk bilas dibiarkan terbengkalai, halaman kolam pemandian pun terbengkalai, sepertinya pemerintah setempat seperti kehabisan modal sehingga hanya dibiarkan seadanya.
Sayang sekali memang sementara tempat ini adalah tujuan turis untuk beristirahat menikmati air panas, sarana dan prasarana pun masih belum memadai; contohnya saja jalan menuju ke Soa Mengeruda yang sebagian besar rusak berat dan belum diaspal, setelah selesai dari Soa Mengeruda saya segera kembali ke hotel dan bersiap-siap untuk makan malam, udara cukup dingin kalau malam karena Bajawa sendiri letaknya diatas pegunungan. Pagi-pagi sekali setelah check out dari hotel saya melanjutkan perjalanan ke Ende tapi sebelum itu saya menyempatkan diri untuk mengunjungi desa adat Bena yang terletak di bawah kaki gunung Inerie. Bena sendiri adalah desa peninggalan zaman megalitik sehingga masih banyak ditemukan sekali sisa-sisa peninggalan zaman tersebut seperti menhir dan altar batu.
Pada zaman dulu mereka menggunakan altar tersebut untuk menaruh persembahan dan pusat dari upacara adat tetapi sekarang lebih banyak digunakan untuk menjemur hasil kebun. Sebagian besar penduduk terutama kaum perempuan membuat tenun ikat kain tradisional, bentuk rumah di Bena dibagi dua berjajar di kanan kiri dan bertingkat-tingkat terdiri dari 9 level sesuai dengan 9 klan keluarga yang tingal disitu dan bagian tengah merupakan lapangan luas dengan beberapa menhir dan altar batu terletak disana serta ada beberapa makam para leluhur mereka. Setelah dari desa Bena, perjalanan kembali saya lanjutkan menuju Ende untuk terus ke Moni, sepanjang perjalanan menuju Ende penuh dengan jalan yang berliku serta tebing curam di sisi lain. Selain itu banyak pohon jeruk yang sedang berbuah sehingga sepanjang perjalanan penu dengan warna orange dari jeruk yang belum dipetik.
Setelah sampai di Moni saya segera berisitrahat dan sambil melepas lelah, hotel yang saya tempati terletak di tepi jalan yang menghubungkan Moni dan Maumere dan dibangun disisi tebing jalan yang meuju ke taman nasional Kelimutu. Malam sangat sepi di Moni, yang terdengar hanyalah bunyi jengkerik sehingga saya putuskan untuk tidur cepat karena besok pagi akan bangun sekitar pukul 3.30. Danau Kelimutu adalah tujuan terakhir saya di Flores sebelum kembali ke Jakarta, bayangkan betapa indah dan eksotisnya danau yang terjadi akibat letusan gunung Kelimutu, dengan 3 danau yang letaknya berdekatan membuat hati ini mengucap syukur kepada Tuhan.
Perjalanan sendiri tidak mudah untuk mencapai danau tersebut setelah kurang lebih 3 jam naik mobil didalam kegelapan pagi dan menyusuri jalan setapak yang juga tidak sempurna penuh dengan batuan dan di sisi kiri jalan jurang yang gelap terbentang membuat kaki saya melangkah dengan hati-hati ditambah dengan jalan yang mendaki untuk menuju area pantau yang terletak diatas tebing sampailah saya di Kelimutu, tapi sayang sekali cuaca disekitar Kelimutu kurang bersahabat sehingga ketika matahari terbit tidak dapat terlihat karena kabut yang cukup tebal tapi ketika angin pagi berhembus cukup kuat tampaklah sinar matahari pagi menembus dan segera kabut yang diatas danau tersingkap menampilkan warna hijau yang memukau.
Bagi penduduk setempat danau Kelimutu atau dalam bahasa setempat disebut Kelimutu Tiwu Telu dipercaya sebagai tempat perginya jiwa-jiwa yang telah meninggal dunia. Untuk melihat tiga danau sekaligus agak sedikit susah karena tidak semuanya berdekatan kecuali dua danau disisi timur yang letaknya bersebelahan dan satu danau lagi disisi barat. Dua danau kembar yang berdekatan adalah danau yang berwarna hijau dimana dulunya berwarna biru atau oleh penduduk setempat disebut Tiwu Ko’o Fai Nuwa tempat perginya arwah anak-anak muda sedangkan yang berwarna coklat dimana dulunya berwarna merah oleh penduduk setempat disebut Tiwu Ata Polo tempat arwah orang jahat pergi dan satu danau disisi barat berwarna hitam dulunya berwarna putih atau disebut Tiwu Ata Bupu tempat arwah orang-orang tua bersemayam.
Perubahan warna ini disebabkan oleh mineral yang ada di dalam danau tersebut. Sungguh pemandangan yang menakjubkan tapi sayang seribu kali sayang di sekitar area untuk melihat danau papan petunjuk yang menceritakan tentang asal muasal danau tiga warna ini sudah rusak dan hancur sehingga para turis tidak bisa mendapatkan petunjuk mengenai danau ini. Mudah-mudahan saja pemerintah setempat cepat mengambil tindakan untuk mengantisipasi keadaan sehingga para turis dapat mengetahi sejarah dan riwayat Kelimutu. Setelah melihat danau tiga warna perjalanan dilanjutkan kembali ke Ende karena saya akan segera kembali ke kesibukan ibukota, saya menginap satu malam di Ende karena pesawat yang akan membawa saya ke Denpasar baru ada hari senin dan kemudian baru berganti pesawat di Denpasar menuju Jakarta. Semoga pemerintah pusat dan daerah setempat segera merealisasikan dan memperbaiki infrastruktur yang ada dan Flores akan benar-benar menjadi “ Bunga Cantik dari Timur”.