Ingin merasakan pengalaman penuh emosi selama dua jam penuh dimana pangeran tampan dan gagah perkasa serta putri cantik memadu kasih, pengembaraan didalam hutan, kijang kencana yang lincah menggoda, makhluk gaib, raksasa, raja jahat penuh angkara murka, bala tentara kera, garuda sakti, serta panglima kera putih yang sakti? Di dalam film terbaru dengan efek mutakhir dari Hollywood? Ternyata semua jawaban itu dapat anda temukan di pentas sendratari Ramayana Teater Terbuka Candi Prambanan. Adalah KGPH Jatikusumo salah satu kerabat Keraton Kasunanan Surakarta yang pada waktu itu menjabat Menteri Pariwisata, Pos dan Perhubungan Darat yang berkeinginan menampilkan kesenian tradisional terutama seni tari secara kolosal dengan latar belakang sebuah bangunan bersejarah kepada masyarakat Indonesia, dan setelah dilakukan survey kebeberapa negara seperti Thailand, Kamboja dan Mesir akhirnya dipilihlah Yogyakarta sebagai tempat pertunjukan tepatnya di Candi Prambanan karena disana juga terdapat relief cerita Ramayana. Sendratari ini pertama kali dipentaskan dan diresmikan oleh Ir. Soekarno, Presiden RI yang pertama pada tahun 1961 di sebelah selatan candi di bagian timur sungai dan pindah ke tempat yang sekarang dibagian barat candi kira-kira tahun 1990-an dengan tambahan sebuah teater tertutup Trimurti untuk pementasan pada musim hujan. Teater terbuka Ramayana sendiri dikelola oleh PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Sepanjang enam bulan dari bulan Mei sampai Oktober pertunjukkan ini digelar setiap malam dengan cerita penuh dan pada tanggal tertentu hanya cuplikan dari setiap episode. Beberapa tokoh terkenal juga pernah datang dan menyaksikan pentas sendratari Ramayana seperti Charlie Chaplin, Perdana Menteri Jepang, Duta Besar Negara sahabat serta Kepala Pemerintahan dari beberapa Negara asing. Dan beberapa nama besar di dunia hiburan dan kesenian pernah lahir dari pentas terbuka ini diantaranya Budayawan Sardono W. Kusomo dan Penari Tradisional Jawa Ibu Retno Maruti.
Ramayana sendiri menggambarkan kesetiaan, perjuangan, kebaikan lawan kejahatan, hitam putih dimana kalau diterjemahkan dalam kehidupan nyata bisa menjadi cermin bagi diri kita sendiri. Dimana Rama berhasil mempersunting putri cantik dari Mantili bernama Sinta setelah memenangkan sayembara yang diselenggarakan oleh Prabu Janaka. Selama mengembara di dalam hutan Rama, Sinta dan Laksmana banyak mengalami cobaan dan hambatan dan yang paling berat adalah ketika Sinta berhasil diculik oleh raja angkara murka dari negeri Alengka bernama Rahwana yang ketika melihat Sinta di dalam hutan Dandaka sepeti melihat titisan Dewi Widowati yang selama ini hadir dalam mimpinya. Maka ia menyuruh Kala Marica untuk merubah dirinya menjadi kijang kencana untuk menggoda Sinta sehingga tertarik dan menyuruh Rama untuk menangkapnya, tetapi Rahwana sendiri tidak bisa mendekati Sinta karena terhalang oleh lingkaran sakti yang dibuat oleh Laksmana ketika hendak pergi menyusul Rama atas suruhan Sinta. Setelah mengubah dirinya menjadi seorang resi tua barulah ia bisa mendekati dan membawa kabur Sinta. Dalam perjalanan Rahwana sendiri mendapat hambatan dari Garuda sakti bernama Jatayu tapi apa daya kesaktian Rahwana lebih unggul dan Jatayu berhasil dikalahkan, sebelum menghembuskan napas terakhirnya Jatayu berhasil memberitahu Rama dan Laksmana bahwa Sinta diculik oleh Rahwana. Singkat cerita dengan dibantu bala tentara kera pimpinan Subali serta kera putih sakti Hanoman dan melalui perang yang panjang Rama berhasil membawa Sinta kembali dengan sebelumnya meminta Sinta untuk terjun ke dalam tumpukan kayu yang dibakar untuk membuktikan kesucian dirinya. Suatu pengorbanan yang cukup berat untuk Sinta karena Rama meragukan kesucian dirinya tapi berkat pertolongan dewa api, Sinta berhasil dan selamat tidak terbakar atau terluka sedikitpun.
Sendratari Ramayana sendiri ternyata ada 2 versi yaitu versi Yogyakarta dan Solo, dimana perbedaaan antara versi Yogyakarta dan Solo jauh berbeda; seperti tehnik pemukulan gamelan agak berbeda seperti kendangan; bonangan maupun pekik, gerak tari untuk Yogyakarta lebih tegas dan junjungannya lebih berat, untuk kostum penari kalau versi Solo lebih banyak warna sedangkan Yogyakarta tidak banyak menggunakan warna dan hanya ada warna cinde yaitu merah atau kuning, filosofi tarinya juga berbeda. Pertunjukkan yang dipentaskan di teater terbuka saat ini adalah gaya Yogyakarta dengan sedikit modifikasi baik untuk gerakan, koreografi, tata busana seperti yang disampaikan bapak Drs. Sumardi selaku ketua Sanggar Tari Wisnu Murti Yogyakarta yang bertindak sebagai koordinator para penari. Beliau memberi gambaran bahwa setiap gerakan dilakukan oleh para penari versi Yogyakarta mempunyai fisolofi sendiri yang dinamakan Kawruh Joget Mataram. Dimana setiap gerakan dibagi menjadi 4 bagian yaitu Greget yang berarti kemauan keras, Sengguh berarti pantang mundur, Suwiji berarti konsentrasi dan Soramingkuh yang artinya percaya diri. Dan menurut para sesepuh bagi yang belum akil baliq kalau mereka tidak bisa memahami Kawruh Joget Mataram akan mengakibatkan mereka menjadi sombong dan tinggi hati. Setiap peran atau tokoh utama mempunyai gerak pokok sendiri misalnya untuk tokoh Rahwana gerak pokoknya disebut Kinantang Raja, sedang untuk tokoh Kumbokarno disebut Sekar Suwun dan untuk Subali dan Sugriwa gerak pokoknya disebut Kinantang Tengklik, sedangkan ragam pokok untuk Hanoman adalah Kambeng Tengklik dan juga ragam gerak khusus untuk tokoh titisan dari Batara Bayu atau Dewa Angin, para Raksasa atau Buto Ijo pun mempunyai gerak pokoknya yaitu Bapeng. Untuk Rama dan Laksmana sendiri gerak pokoknya adalah Impur Alus. Untuk peran para penari dibagi menjadi Alus, Gagah dan Putri. Gerak pokok penari putri adalah Ngregem atau Ngenceng dan sesudah di modifikasi ada ragam gerak baru seperti Wurdoh, Kipat Gajahan dan Pucang Anginan. Dan setiap gerak pokok baik untuk peran Putri, Alus atau Gagah tidak bisa dirubah gerak pokoknya, improvisasi hanya diberlakukan untuk jalan cerita guna menambah unsur drama cerita tetapi untuk koreografi tidak bisa diubah harus sesuai dengan pakemnya, setiap menjatuhkan ragam jatuh pada gong setiap gerak harus tetap sesuai dengan pakem. Biasanya untuk peran putri hanya dibedakan dari warna pakaian dan ragam pengembangan; untuk yang perannya sedikit kenes, lincah, menggunakan kostum ada ornamen warna merah dan gerakan tarinya yang sedikit terbuka dan untuk peran putri yang lemah lembut, halus geraknya menggunakan kostum warna hitam, biru atau hijau. Dan untuk aksesoris para penari antara lain: Iran-iran atau mahkota kepala, sumping untuk di kanan dan kiri telinga, anting subang untuk penari putri, kalung susun untuk peran putri dan alus, canggalan untuk peran gagah dan untuk yang di Prambanan canggalan dimodifikasi dengan kace yang bentuknya bulat menutup bahu, selain itu di lengan kiri dan kanan juga mengenakan kelat bahu, sementara gelang kaki hanyalah bagian dari modifikasi. Selain itu kalau kita perhatikan untuk peran Alus seperti Rama dan putri seperti Sinta mereka menggunakan Sebe yaitu berupa selendang kecil melintang dari bahu kanan ke kiri sampai batas pinggang, ini merupakan ciri khas untuk peran para Dewa atau tokoh suci dan seperti yang kita ketahui bersama Rama adalah titisan dari Batara Wisnu dan Sinta titisan dari Batari Sri istrinya.
Dengan tata panggung yang luasnya 24 x 19 meter serta kapasitas tempat duduk kurang lebih untuk 1000 orang dan dibantu dengan tata suara yang jernih serta tata lampu yang dinamis dan permainan warna yang selaras menyinari para penari ketika keluar dari belakang, kanan kiri panggung serta dari arah belakang penonton mampu membuat mulut anda berdecak kagum, dengan menggunakan obor dan replika rumah tanpa dukungan peralatan super canggih untuk menggambarkan adegan ketika Hanoman ditangkap dan membakar kota Alengka membuat suasana semakin dramatis. Candi Prambanan sendiri berdiri dengan angkuhnya di kejauhan dengan disinari lampu sorot yang berwarna kuning keemasan semakin menambah suasana menonton anda jadi semarak. Seperti yang diutarakan oleh penonton asing sepasang suami istri dari India yang sempat di wawancarai; menurut mereka pertunjukkan yang ditampilkan sangat luar biasa dan professional karena di negera asal mereka dimana cerita Ramayana ini berasal yaitu India tidak pernah ada pertunjukkan seni tari kolosal dengan kostum yang sempurna, tata panggung yang menunjang karena buat mereka cerita Ramayana hanya ada dari kitab yang ditulis Resi Walmiki atau dari film. Sehingga ketika mendapat rekomendasi dari beberpa orang teman kalau berlibur ke Indonesia jangan lupa untuk ke Yogyakarta dan menonton sendratari Ramayana di teater terbuka Candi Prambanan. Walau ada sedikit perbedaaan karena tuntutan biaya produksi tapi buat mereka tidak jadi masalah karena mereka masih dapat menikmati tarian yang disajikan. Dan mereka akan merekomendasikan ini kepada teman-teman mereka dan mereka juga ingin sekali membuat pertunjukkan yang sama tentunya dengan versi India. Tapi semua tidak akan ada artinya kalau kita sendiri tidak dapat menghargai kesenian itu sendiri sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Jayeng Legowo selaku Kasi Operasional Unit Teater dan Pentas Sendratari Ramayana, dimana sebagian besar penonton terutama wisatawan domestik lebih banyak berbicara sendiri dan mengomentari jalan cerita serta mondar-mandir untuk mengambil gambar tanpa memperdulikan penonton lain akan terganggu walau sebelum acara dimulai sudah diumumkan terlebih dahulu tata tertib panggung terbuka teater Prambanan atau dimana sebagian orang menganggap menonton pertunjukkan wayang orang adalah untuk orang tua atau untuk wisatawan asing. Belum lagi regenerasi penari terutama penari cowok sungguh sulit dimana sebagian remaja menganggap bahwa dengan menjadi penari akan membuat mereka menjadi bahan ejekan teman-temannya. Seperti yang kita ketahui juga bahwa dunia pariwisata sangat tergantung dengan keamanan suatu negara, stabilitas ekonomi, belum lagi isu-isu, larangan bepergian dari beberapa negara membuat semakin menurunnya jumlah penonton dibandingkan tahun 1994 dimana jumlah wisatawan asing lebih banyak dari wisatawan domestik sekitar 90:10 tapi sekarang berubah, perbandingan sudah 75:25 untuk wisatawan domestik dan asing, tapi yang paling memukul adalah ketika terjadinya gempa bumi di Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006. Dapat dibayangkan betapa penderitaan mereka dimana sebagian dari para penari menggantungkan hidupnya dari menari sehingga mereka tidak dapat melakukan aktivitas karena keadaan masih rawan ibarat kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula ditambah lagi jumlah penonton berkurang karena tidak banyak turis yang datang sehingga pernah pihak teater tetap menampilkan pertunjukkan agar para penari terhindar dari stress yang berkepanjangan karena lebih banyak tinggal dirumah akibat gempa.
Tidak gampang memang untuk membuat kesenian tradisional menjadi tuan rumah di negeri sendiri tetapi apa yang telah dilakukan oleh PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko selaku pengelola sangat patut kita hargai. Dengan semangat tinggi pihak teater berusaha keras memasyarakatkan kesenian tradisional dengan cara bekerja sama dengan Depdiknas untuk memasukan kesenian tradisonal sebagai muatan lokal di setiap sekolah-sekolah kemudian juga melakukan kunjungan langsung ke tiap-tiap sekolah dan memberikan informasi tentang sendratari Ramayana sambil memberikan paket khusus kepada para guru, murid serta orang tua murid untuk menonton secara gratis pada periode tertentu, selain itu juga melakukan kunjungan ke beberapa daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan beberapa daerah lainnya untuk mempromosikan pertunjukan sendratari Ramayana serta mengundang para guru untuk menonton dimana untuk akomodasi dan transportasi ditanggung oleh pihak teater sehingga dengan demikian mereka bisa mengajak dan menceritakan kepada murid atau orang tua murid untuk datang berkunjung ke Yogyakarta dan menyaksikan pertunjuka tersebut, hal ini disampaikan oleh Bpk. Ir. H. Djoko Sutono selaku Wakil Kepala Unit Teater. Pihak pengelola juga tidak menutup mata dengan teknologi yang serba canggih dan berusaha keras memperbaiki setiap kekurangan yang ada dan mungkin saja suatu saat nanti ketika adegan Jatayu terbang untuk menyelamatkan Sinta akan bisa kita lihat dengan menggunakan sling yang tipis tapi kuat sehingga dengan latar belakang Candi Prambanan Jatayu seakan terbang diatas langit Yogyakarta. Ada satu hal lagi yang dapat membuat kita bangga bahwa pertunjukkan kolosal seperti ini justru di negera asal pengarang ceritanya tidak pernah ada, tantangan berat menanti di era globalisasi ini dimana kecanggihan teknologi, televisi, internet dapat membuat orang mendapatkan semua informasi atau menonton sebuah pertunjukkan. Kita tidak akan memiliki kebudayaan kalau tidak kita jaga dan pelihara untuk diwariskan kepada generasi penerus karena tanpa sejarah dan kesenian tradisional maka generasi penerus tidak pernah tahu sejarah bangsanya sendiri. Sudahkah anda menyadari dan mencintai kesenian tradisional????????